, JAKARTA — Arus dana asing ke pasar saham Indonesia diharapkan kembali meningkat seiring dengan langkah-langkah yang diambil oleh otoritas bursa dalam memenuhi standar indeks global. Dalam perkiraan optimis, aktivitas pembelian bersih dari investor asing diperkirakan mulai konsisten terjadi pada Maret 2026.
Kepala Penelitian Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menganggap peluang kembalinya investor asing masih terbuka lebar.
Namun demikian, ia menyampaikan bahwa hal tersebut sangat tergantung pada pelaksanaan reformasi pasar yang mencakup aspek transparansi, klasifikasi investor yang lebih rinci, hingga peningkatanfree float saham.
Peluang bagi investor asing untuk kembali tetap ada, tergantung pada bagaimana pelaksanaan reformasi mengenai transparansi, pengklasifikasian investor yang lebih rinci, serta peningkatanfree floatsaham,” tutup Rully saat dihubungi, Jumat (20/2/2026).
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sedang mengajukan empat solusi kepada MSCI serta pihak penyedia indeks global lainnya.
Pertama, peningkatan kejelasan pengungkapan pemegang saham yang memiliki lebih dari 1% pada setiap perusahaan terbuka dengan target penerapan Februari atau awal Maret 2026Kedua, data perusahaan dengan pemegang saham yang terpusat atauultimate beneficial owner(UBO) dengan tujuan penerapan pada periode yang sama.
Ketiga, penambahan sebanyak 28 klasifikasi investor sebagai subkategori dari kategori “Corporate” dan “Others” guna melengkapi 9 kategori investor yang sudah ada. Target penerapan akan dilakukan pada akhir bulan Maret mendatang.
Keempat, kenaikan batas minimum free floatmenjadi 15% dari sebelumnya 7,5% agar tetap mempertahankan status sebagai perusahaan terdaftar. Aturan diharapkan mulai berlaku pada Maret 2026, dengan penerapan bertahap selama tiga tahun.
Rully memprediksi, jika target pencapaian standar utama MSCI selesai sebelum Maret 2026, maka bulan depan bisa menjadi titik balik bagi aliran modal asing. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa faktor struktural saja tidak cukup untuk menggerakkan aliran dana dalam jangka pendek.
Menurutnya, faktor risiko global seperti arah suku bunga The Fed, stabilitas kurs rupiah, serta situasi yield obligasi internasional tetap menjadi perhatian utama para investor. Di sisi dalam negeri, kredibilitas kebijakan fiskal dan kemandirian Bank Indonesia (BI) menjadi indikator yang diawasi secara ketat.
“Timingsecara tepat ditentukan oleh dua hal di luar proses reformasi itu sendiri, yaitu kondisi pasar global ataurisk-offdan kestabilan rupiah,” kata Rully.
Saat ini, IHSG masih menghadapi tekanan dengan penurunan sekitar 5%year to date(YtD) dan didampingi aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp14,65 triliun.
DisclaimerBerita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang muncul dari keputusan investasi yang dibuat oleh pembaca.






