Cairantinta.web.id Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menyatakan Metri Bumi tradisi yang dijalankan oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dalam rangka menjaga alam dan sumber air menguntungkan manusia secara umum di dunia. Hal ini menurut Prof. Widodo dikarenakan yang merasakan kebermanfaatannya adalah seluruh umat manusia.
Hadir dalam peresmian laboratorium Living Life di Pantai Kili-Kili, Kecamatan Panggul bersama Bupati Trenggalek, Prof. Widodo sangat mengapresiasi tradisi Metri Bumi dan juga upaya-upaya menjaga alam yang dilakukan Kabupaten Trenggalek. Menurutnya konsen dan komitmen Trenggalek sangat luar biasa dan itu perlu terus dipupuk dan dijaga.
Dalam kegiatannya itu Rektor Universitas Brawijaya itu mengatakan, “ini salah satu tradisi, salah satu budaya yang mana budaya ini diperuntukkan bagaimana kita ingat, sadar bahwa hidup kita itu sangat tergantung dari kelestarian bumi itu sendiri. Ini hal yang sangat bagus dan banyak hal program-program kelestarian alam dan seterusnya itu tidak berjalan dengan baik kalau tidak di ikuti dengan budaya,” ucapnya, Jumat (20/8/2026).
Masih menurut Prof. Widodo, “saya melihat dengan budaya ini menunjukkan bahwa Mindset dan juga tentu perilaku yang menyebabkan sebuah tradisi dan budaya ini sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek, yang mana dia paham, peduli untuk melestarikan alam,” imbuhnya
“Ini tentu menguntungkan tidak hanya di Trenggalek, tetapi tradisi ini menguntungkan manusia secara umum di dunia ini. Karena apa yang dilakukan Trenggalek dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia,” jelas Rektor Universitas Brawijaya itu.
Sementara itu Metri Bumi sendiri merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek dan kegiatan ini rutin dilakukan untuk menjaga keberadaan sumber air. Air sendiri merupakan sumber kehidupan makhluk hidup, maka dari itu wajib untuk dijaga.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin dalam kegiatan Metri Bumi ini mengatakan “perlu di ingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan. Kalau kita lihat dari potensi hampir semua pendapatan atau dari sisi ekonomi kita, itu didapatkan dari basis alam. Apalagi kita masih berpijak kepada pertanian, peternak dan juga perikanan. Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan Karst atau kawasan hutan yang terjaga, maka itu menjadi satu rangkaian,” jelasnya.
Kemudian step kedua adalah industri pengolahan. Industri pengolahan pun industri pengolahan dari hasil yang hulu. Kemudian yang ketiga dari hasil akomodasi pariwisata hiburan. Pariwisata kita semua berbasis alam. Kalau alamnya rusak maka Trenggalek juga akan rusak. Maka pendapatan Trenggalek, ekonomi Trenggalek juga akan rusak di situ.
“Jadi bisa saya simpulkan bahwa rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Maka kalau kita ingin merayakan hari jadi kita, ya yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam,” tutup Mas Ipin.






