Rocky Gerung Percaya Ancaman Bukan dari Prabowo, Dugaan Pelaku: Ngomporin

Ringkasan Berita:

  • Rocky Gerung memberikan pendapatnya mengenai ancaman terhadap Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto
  • Berdasarkan pendapat Rocky Gerung, orang yang melakukan ancaman terhadap Tiyo Ardianto bukanlah Presiden Prabowo Subianto.
  • Ia yakin bahwa terdapat pihak lain yang menjadi ‘pemicu’ dalam kasus ini.

Ahli politik dan mantan dosen Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung, memberikan komentarnya mengenai ancaman yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Yogyakarta, Tiyo Ardianto.

Berdasarkan analisis Rocky Gerung, terdapat pihak yang bertindak sebagai ‘kompor’ dalam aksi teror ini.

Takut menimpa Tiyo Ardianto setelah ia mengungkapkan kasus anak SD di NTT yang meninggal dunia.

Tidak hanya Tiyo Ardianto, ibunya juga mengalami dampaknya.

Ibu juga turut menjadi korban dari kejadian ini.

Jenis kekerasan berupa pengawasan intensif, menyebarkan berita palsu, hingga ancaman pembunuhan.

Rocky Gerung percaya bahwa tindakan teror tidak datang dari lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Maka jika dia (Tiyo) diancam, saya tidak percaya orang yang mengancam adalah presiden. Tidak mungkin Presiden Prabowo yang mengancam,” katanya, dilansir dari kanal YouTube Rocky Gerung Official, Sabtu (21/2/2026).

Lelaki yang lahir pada 20 Januari 1959 ini kemudian menyalahkan pihak yang mengintimidasi Tiyo, yaitu kelompok the fifth column atau koloni kelima.

Mereka memanfaatkan kondisi tersebut untuk meraih keuntungan pribadi.

“Mereka ingin memanfaatkan situasi dengan menyebarkan rasa takut terhadap ketua BEM ini. Jadi menurut saya, ketua BEM tidak perlu khawatir karena apa yang dialaminya adalah hal biasa dan setiap orang pasti mengambil risiko dalam upaya memperjuangkan demokrasi,” ujar Rocky Gerung.

Kritik Akademik

Rocky Gerung juga menganggap pernyataan yang disampaikan Tiyo hanya didasarkan pada data, bukan atas dasar kebencian pribadi terhadap Presiden Prabowo.

Ketua BEM UGM berharap menyampaikan pandangannya sebagai seorang mahasiswa, dan tidak bermaksud melakukan pemberontakan.

Tiyo hanya menggunakan haknya dalam demokrasi, yaitu menyampaikan pendapat.

Kali ini merupakan pendapat akademis yang didasarkan pada pengujian data, dengan mempertimbangkan pandangan masyarakat. Teman ini (Tiyo) pantas mengucapkan hal tersebut dalam kapasitasnya sebagai seorang akademisi.

“Kita menyebut pikiran mahasiswa itu tidak terkait dengan makar, tidak ada kaitannya dengan kebencian pribadi,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak perlu merasa terganggu menghadapi kritik dari Ketua BEM UGM.

Isu ini menimbulkan perdebatan karena ada pihak lain yang membuat suasana semakin memanas.

“Maka pemerintah tidak perlu terlalu kaku menghadapi hal ini. Saya rasa yang membuat pemerintah kaku justru karena ada pihak lain yang ingin memicu agar ketua BEM ini ditangkap, memicu agar ketua BEM ini dianiaya sehingga terjadi krisis politik,” tegasnya.

Tiyo di kanal YouTube Forum Keadilan TV, menegaskan bahwa kritik yang dia sampaikan bukanlah karena tidak suka terhadap Pemerintahan Prabowo.

Sebenarnya tidak ada yang membenci Bapak. Kita hanya tidak menyukai bayangan tentang Indonesia yang harus rusak akibat tindakan Bapak, atau mungkin Bapak tidak menyadari bahwa Bapak sedang melakukan hal tersebut.

“Bapak saya pikir perlu rendah hati dalam belajar. Bapak harus rendah hati agar bisa menyadari. Kerendahan hati sangat penting agar telinga menjadi terbuka,” katanya.

Respons Istana

Kedutaan Presiden merespons berita mengenai tindakan teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, setelah menyampaikan kritik tajam terhadap kasus kematian anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan bahwa meskipun kritik merupakan hal yang dijamin konstitusi, penyampaianya harus tetap memperhatikan etika dan kesopanan.

“Menyampaikan kritik atau saran selalu kami anggap wajar. Namun, tentu kami mengimbau kepada semua pihak untuk menyampaikan segala sesuatu dengan tanggung jawab, serta menjunjung etika, kesopanan, dan adat istiadat Timur,” kata Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).

Sebagai sesama lulusan UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo menekankan kepentingan pemilihan kata dalam menyampaikan pendapat.

Ia meminta para aktivis mahasiswa agar menjauhi penggunaan kata-kata yang dianggap tidak pantas.

“Tidak ada masalah dengan penyampaian pendapatnya, tetapi cara berbicaranya juga perlu menjadi pelajaran bagi kita semua. Misalnya, hindarilah penggunaan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Aturan ini berlaku untuk siapa saja, bukan hanya untuk adik saya dari BEM UGM,” tambahnya.

Mengenai ancaman teror, pengintian, dan pesan-pesan mengancam yang diterima Ketua BEM UGM beserta keluarganya, Prasetyo mengatakan belum mengetahui secara pasti pelakunya.

Namun, dia memastikan bahwa konstitusi tetap melindungi kebebasan berbicara.

“Jika teror yang kita alami tidak diketahui siapa pelakunya. Namun mengenai apa yang diatur dalam konstitusi, hal itu menjamin kebebasan berpendapat. Maka sekali lagi yang bisa kami sampaikan adalah sampaikanlah dengan cara yang bijaksana, melalui jalur yang tepat dan pemilihan kata juga penting,” katanya.

Prasetyo menekankan bahwa pemilihan kata yang tepat sangat penting agar masukan yang diberikan oleh mahasiswa dapat menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi pemerintah.

Mengenai tuntutan agar negara memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan para aktivis yang mengalami ancaman, Mensesneg berjanji akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Baik, nanti kita periksa saja,” katanya.

(TribunTrends/Tribunnews)

Jangan lewatkan berita-berita yang tidak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *